Guri: "Unsent Letter."

"π™ΊπšŽπš™πšŠπšπšŠπš–πšž πšπš’ πš–πšŠπšœπšŠ πšπšŽπš™πšŠπš—. "

Seperti itu awal surat yang kau tinggalkan untukku, secarik kertas kuning lusuh yang entah berapa banyaknya terkena tetesan air matamu sampai mengering diantara tinta-tintanya yang luntur. 

“π™°πš”πšž πš–πšŽπš—πšŒπš’πš—πšπšŠπš’πš–πšž πšœπšŽπš•πšŠπš–πšŠ πš’πš—πš’. "

Itu penggalan paling banyak dalam suratmu, bahkan dari yang hanya menceritakan keseharian mu mengagumi ku, kalimat itu ada dimana-mana. Sangat kabur dan abu-abu.

“π™ΌπšŠπšŠπšπš”πšŠπš— πšŠπš”πšž. "

Penggalan paling banyak lainnya yang membuat aku marah, aku ingin menyeret mu dan menamparmu agar kau katakan sendiri dengan mulutmu yang membisu itu, berteriaklah di depan wajahku asal jangan bungkam karena dunia. Kau kalah oleh dunia ini? Aku tak percaya.

“πšƒπšŽπš›πš’πš–πšŠπš”πšŠπšœπš’πš‘ πšžπš—πšπšžπš” πš πšŠπš”πšπšžπš–πšž. "

Kau sungguh idiot paling kesayangan ku, kau pikir dimana lagi seluruh waktu ku akan berorientasi jika bukan untukmu? Kau pikir apa lagi alasanku berada di sisimu jika bukan untuk menghabiskan waktu yang sementara ini bersama mu.

 "π™ΊπšŠπšž πš™πšŠπšœπšπš’ πšŠπš”πšŠπš— πšπšžπš–πš‹πšžπš‘ πš•πšŽπš‹πš’πš‘ πš‹πšŠπš’πš”, πšŠπš”πšž πšŠπš”πšŠπš— πš–πšŽπš•πš’πš‘πšŠπšπš–πšž πš–πšŽπš—πšπšπšŠπš™πšŠπš’ πšŒπš’πšπšŠ-πšŒπš’πšπšŠπš–πšž πšπšŠπš›πš’ πšœπš’πš—πš’. "

Bukan begitu cara kerjanya. Datang dan lihatlah dengan mata kepalamu sendiri, lihat bagaimana aku menggapai cita-cita ku, apresiasi aku, peluk aku, dan tinggalah di dunia yang kita impikan.

“π™°πš”πšž πšœπšžπšπšŠπš‘ πš–πšŽπš—πš’πš—πšπšπšŠπš•πš”πšŠπš— πš•πšžπš”πšŠ πš’πš—πš’ πš™πšŠπšπšŠπš–πšž. ”

Ini bukan sekedar luka, sayang. Ini cacat. Ini permanen, bahwa tak ada lagi cinta yang sama setelah kau. Bahwa tak pernah ada selain kau.

“π™ΊπšŠπšž πšœπšŽπšπšŠπš•πšŠ-πšπšŠπš•πšŠπš—πš’πšŠ πš‹πšŠπšπš’πš”πšž. "

Kau segala-galanya bagiku, aku ulangi. Kau lah alasan ku mau coba makan sayur, kau tahu? Aku kemudian segala-galanya bagimu, katamu. Dan kau pilih sungai itu daripada aku.

“πš‚πšŽπš•πšŠπš–πšŠπš πšπš’πš—πšπšπšŠπš• πš”πšŽπšœπš’πšŠπš—πšπšŠπš— πš”πšž, πšŠπš”πšž πšœπšŽπš•πšŠπš•πšž 𝚊𝚍𝚊 πšπš’ πšπšŠπš•πšŠπš– πšπš’πš›πš’πš–πšž. "

Kurang, empat lembar suratmu itu tak berarti apa-apa bagiku. Kurang, berikan aku lebih banyak, kata-kata itu tak bersuara, mereka nyawamu yang telah hilang tapi aku butuh hangatmu. Aku akan berlutut dan memohon jika itu yang kau mau. 

π˜—π˜ͺ𝘭π˜ͺ𝘩𝘭𝘒𝘩 𝘒𝘬𝘢. 

Rembulan tumpah ruah di atas parasmu, malam itupun aku jadi tersadar, aku ingin berkelahi dengan pilihanmu. Aku pun tak kalah elok darinya.


Komentar

Postingan Populer