Guri: "Take My Whole Life Too."
"𝚃𝚊𝚔𝚎 𝚖𝚢 𝚑𝚊𝚗𝚍," 𝙸 𝚊𝚜𝚔𝚎𝚍
"𝚃𝚊𝚔𝚎 𝚖𝚢 𝚠𝚑𝚘𝚕𝚎 𝚕𝚒𝚏𝚎 𝚝𝚘𝚘."
Hari itu ku pikir hanya sebatas betapa berkilaunya laut atau seberapa tinggi ombak menjelang sore. Di balik diam-diam kekaguman ku atas samudera, berapa meter jaraknya dariku, sebuah jiwa memutuskan menyatu dengan laut. 𝘏𝘢𝘮𝘱𝘪𝘳.
Barangkali ku pikir hal-hal semacam ini hanyalah fiksi semata, semua pemahaman ku di jungkir balikkan hanya karena satu jiwa berhasil di selamatkan. Kaki ku yang goyah dan ragu-ragu tetap memutuskan mendekat. Menyapa jiwa yang rapuh itu dan satu-satunya yang bisa aku keluarkan dari mulutku saat itu hanyalah.
"Mau di peluk?"
Entah sesederhana apa itu, namun isak tangisnya, seberapa kuat lengannya mengelilingi ku, itu semua tak bisa bohong. Itu semua begitu nyata, dan aku menjadi yang pertama mendekapnya yang terlanjur serapuh itu.
Saat aku hanya fokus mendengarkan tangisnya, aku sadar satu hal, orang-orang kebanyakan berusaha meyakinkan jiwa-jiwa seperti ini bahwa mereka di kelilingi orang yang sayang pada mereka, bahwa kasih sayang tak harus selalu datang dari orang paling dekat. Bahkan dari orang paling asing sekalipun mungkin menyelamatkan secara tidak langsung suatu saat.
Keluhannya sederhana, ia lelah dan hanya ingin pulang. Meskipun konsep pulangnya sudah tak lagi se-sederhana yang di pikirkan orang-orang di sekitarnya. Dan apakah itu salah? Tidak, dia manusia paling heroik yang berhasil keluar dari bibir pantai saat itu dan untuk pertama kalinya, aku menemukan satu kenyataan bahwa,
"Saat kita menjulurkan tangan untuk membantu seseorang, tanpa kita tahu, kita juga menarik seluruh hidupnya untuk kembali."
Sambutlah uluran tangan berikutnya, sepasang tangan kadang hanya bergelantungan sebab tak mampu melantunkan tolong yang terlanjur terlalu berat.
Komentar
Posting Komentar