Guri: "If only we hadn't died that day."

Jika saja kita tidak mati hari itu ....

Benar kata mereka, ketika kita di ambang kematian, sekelebat bayangan, memori, cinta dan kasih menelusup masuk dengan paksa seperti kaset rusak. Hitam putih namun dengan perasaan yang begitu jelas. 

Aku masih ingin mengingat bagaimana rasanya bangun dan makan roti kering di pagi hari, lalu pergi berkegiatan di bawah sinar matahari. 

Seharusnya semua akan baik-baik saja jika aku memutuskan untuk tidak bertanya-tanya soal kebebasan. Jika saja aku memutuskan untuk menerima dunia sebagaimana apa ada dan bentuknya. Seharusnya, kita masih disini. Lagipula, begitu banyak cara untuk menafsirkan kebebasan itu seperti apa, apakah benar tidak terbelenggu oleh apapun? Atau terbang tak terbatas di atas ilmu pengetahuan?

Tapi sayang sekali....

Aku memutuskan bertanya-tanya lalu mencari tahu, bukannya memang kata mereka, "Teruslah penasaran." Tapi ada kalanya, rahasia semesta biarlah menjadi rahasia semesta, biarlah terbelenggu daripada tersesat. 

Pertanyaan-pertanyaan sesat yang muncul karena keingintahuan itu, tidak sepenuhnya harus di dengar, terkadang berhentilah penasaran untuk membuat mu tetap hidup. Berhentilah bertanya-tanya, kenapa tetangga mu masih tertawa padahal tagihan listriknya menunggak. Berhentilah bertanya-tanya tentang mengapa seseorang tidak putus dengan kekasih bodohnya? 

Tanyakan pada dirimu sendiri, "Kenapa kamu hidup?" Sebelum orang lain bertanya padamu, "Kenapa kamu ada di dunia ini?"
Pertanyaan yang serupa dengan bobot yang kejam. 

Maka kemudian, keingintahuan itu yang membuat mu mati hari itu. Ketika kamu menemukan jawaban yang jiwamu tidak siap. Bayarannya? Kamu kehilangan dirimu sendiri karena standar tiba-tiba meningkat, harapan-harapan tiba-tiba melonjak dan kegagalan tiba-tiba muncul terlalu jelas. 

Bagaimana caranya menyelamatkan dirimu sendiri?


Komentar

Postingan Populer