Guri: "Our obligations."
Kewajiban kamu, hidup kamu.
Ada kalanya, kewajiban itu terasa membebani dan lebih menyesakkan ketimbang hak-hak yang akan diterima setelahnya. Pada dasarnya, sebagai individu, kita hidup untuk menerima hak dan menjalani kewajiban.
Tapi, di satu sisi ada alasan kenapa kita tidak bisa mengeluh akan sesuatu karena itu adalah kewajiban kita. Sebagaimana kita menempuh wajib pendidikan, kita di wajibkan dan mendapatkan hak untuk itu lalu untuk kemudian secara rohaniah tidak bisa mengeluh akan betapa kerasnya pendidikan itu sebenarnya.
Seolah-olah, kita dibawa merasa bersalah jika mengeluh tentang betapa kejamnya pendidikan sewaktu-waktu, seberapa mengintimidasinya pendidikan itu bahkan bagi mereka yang menyukai belajar. Lalu kemudian, tekanan-tekanan yang muncul dari emosi terpendam itu bisa mengkontaminasi para mereka yang sulit memilah, atau kekurangan komunikasi dari hati ke hati dalam hidup untuk kemudian tenggelam dalam ke-negatifan pendidikan.
Mereka tidak bisa mengeluh karena nanti disalahkan, bahwa mengapa sulit sekali hanya tinggal belajar saja. Seolah-olah yang menghakimi itu lupa bahwa kita juga pertama kali menjadi seorang murid. Kita tidak pernah menyalahkan tenaga pendidik, tidak bisa. Tapi faktanya benar, pendidikan juga bukan hanya tentang menambah ilmu pengetahuan tapi juga pemahaman tentang bagaimana mengendalikan diri sendiri ketika kita terguncang akan sesuatu selama belajar itu dan ketika yang kita harapkan bahwa tenaga pendidik itu bisa membimbing kita dengan cara yang orang tua kita tidak bisa berikan justru malah mengintimidasi, curang, dan menghakimi.
Beginilah perspektif seorang murid, suatu perspektif yang harus mempertaruhkan segalanya jika ingin di suarakan. Tulisan pun bicara, bahwa terkadang emosi negatif di dalam diri ini sudah terlalu kuat dan kemudian berimbas kepada penurunan kinerja belajar, menangkap materi yang kemudian berujung pada tekanan berkelanjutan.
Bukannya mudah untuk, "Jalani saja, nanti akan indah pada waktunya." Manusia ini juga pertama kali menjadi manusia, tidak pernah tahu bahwa sebenarnya dunia seburuk katanya.
Komentar
Posting Komentar