Guri: "Those Poem."
Puisi kita adalah karangan, imajinasi semata dari purwarupa tak terwujud dan apa-apa saja yang tidak sempat kita ucapkan, kita lakukan, kita impikan dan yang tidak bisa kita raih. Kamu percaya dengan segenap jiwamu, bahwa dunia seharusnya lebih mudah jika seindah puisi, sajak, syair, lagu, lukisan.
Kenapa karya seni kerap meng-intepresentasikan jiwa seseorang?
Karena itu benar adanya, sesuatu yang tersirat tidak akan di pahami orang awam, mau dia sejenius Nikola Tesla pun, dia tidak akan tahu bagaimana cara seniman melihat dunia. Lalu muncullah beberapa kasus dimana, para seniman menggunakan karya mereka untuk melarikan diri, atau mati bersama itu.
Vincent Van Gogh, misalnya.
Lalu, juga muncul keraguan-keraguan pada jiwa sendiri, kerap kali terjadi kepada saudara-saudara penulis kita yang acap kali mempertanyakan:
"Selalu menjadi penulis bukan yang di tulis." Atau, "Selalu menjadi pencipta puisi, bukan inspirasi puisi."
Sebenarnya, tidak masalah bukan? Hanya orang-orang seperti kita yang bisa melihat dunia ini secara terbalik, melintang, horizontal, hexagon, atau sejenisnya. Bukan mereka dengan mata-mata awam itu.
Tapi, seniman pun manusia, dan apa-apa yang membangun manusia selain sel dan air itu adalah kecintaan, kerinduan, dan keinginan untuk menjadi yang diinginkan adalah hal-hal sederhana yang disepelekan.
Aku akan bilang bahwa seniman adalah orang-orang paling sekarat di bumi. Anggap saja, orang-orang ini sudah di ambang keputusasaan dan lihatlah bagaimana dunia secara keseluruhan memandang seni itu sendiri. Dan, sialnya? Seniman memang tidak pandai bicara. Tidak pandai menyerukan keterpurukan mereka masing-masing terkecuali lewat karya itu sendiri.
Tapi, tidak semua seniman itu sakit. Mereka hanya terlalu berani melihat dunia dengan cara yang tidak orang awam lakukan. Itulah mengapa, dunia ini bisa berjalan semestinya karena mereka. Bahkan orang paling logis sekalipun perlu berimajinasi.
Komentar
Posting Komentar