Guri: "You are Everywhere."
Sepanjang melintasi café yang aromanya sudah bersatu padu dengan kopi seduhan membuat ku lagi-lagi teringat betapa kamu tidak pernah berhenti menceritakan tentang kopi dan buku kesukaanmu yang dulu pernah aku pinjam tapi semata-mata cuma sebagai alasan agar kita ketemu lagi.
Aduh konyolnya waktu aku termenung di depan kasir kopi bak badut merchandise. Bukannya aku sengaja melamun, lagi buka kitab ‘kita’ dulu, aku mulai lupa kamu dulunya suka kopi rasa apa, rasanya nyangkut di tenggorokan ku waktu aku mau bilang pesananku karena dulu tiap beli kopi pastinya aku bertanya, “kamu yang biasa?”
Hampir saja aku mau bertanya ke bapak kantoran di belakangku yang sudah kelihatan banget capek sama hidup, sama aja seperti aku yang capek melihat kamu di mana-mana dan justru lebih baik aku duduk sama bapak ini terus kami cerita tentang, kenapa hal-hal yang harusnya berubah sulit diterima.
Komentar
Posting Komentar