Guri: "You."

Aku berdiri di tempat yang sama yang dulunya tempat kita berdua menunggu kala hujan membasuh seisi kota para pendusta, sempat terbayang senyum korporat mu yang membuat ku cekikikan hingga pak tua di sebelahku sampai menoleh, agak terlihat khawatir perkara anak muda tertawa sendiri setelah basah kuyup seperti bayam lesu, tapi tak apa, sebab kamu memang menawan untuk tidak ditertawakan. 

Masalah lainnya yang membuat senyum ku langsung tercampakkan bukan karena hujan yang tak kunjung reda, bukan juga soal paduan suara menakutkan dari para kodok apalagi tentang mantel ku yang bolong sebab kucingku suka warna neonnya—tapi karena kenyataan bahwa kini aku yang menunggu sendirian dan tanpa kamu. Itu—sama seperti memaksaku gencatan senjata dengan kodok saat harus menerima kenyataan bahwa kamu telah jauh. 

Mau tau hal paling menggelikan dari menunggu hujan tanpa kamu malam itu? Gejolak untuk mengirimkan pesan berisiko tinggi kepadamu sempat membuat igaku bergetar karena jantungku mendadak gila, tapi untung saja bapak rambut tipis abu-abu itu terus melirikku sehingga aku masih mengingat kenyataan mana yang aku pijak. 
 

Komentar

Postingan Populer