Guri: "Let Me Ask."
WHEN?
Kau bertanya? Pada siapa? Padaku? Pada alam? Atau Tuhan?
Sepanjang perjalanan yang kau arungi, bunga mekar dan gugur, kehidupan mati dan lahir, kau masih bertanya-tanya dimana tempatmu di dunia ini? Mana porsimu, mana tempatmu? Bukankah agak konyol pertanyaan itu terus bermuara tanpa arah, bertahun-tahun lamanya tak kunjung kau temukan jawaban yang kau cari-cari.
Atau sebenarnya jawaban itu sudah kau temukan di depan mata tapi kau menolak karena kau percaya: “selalu ada yang lebih baik kalau kau sabar sedikit lagi?”
Itulah pertanyaannya, Kapan? Sampai kapan?
“Dunia tidak akan berhenti, mau kau tersungkur, masuk comberan atau ketabrak kereta, dunia tetap akan berjalan tanpa menoleh. Jangan kau berharap seolah dunia bakal ikutan berduka waktu kau tiada, berharap langit menangis meraung-raung, tsunami datang, gempa mengguncang dunia hanya karena satu jiwa cemen seperti kau hilang.
Malah—kehidupan kau yang berhenti, bukan dunia dan segala tetek bengek penderitaannya. Jadi apa tujuannya? Kau memang cuma mau menghilang dari dunia atau hanya membutuhkan secuil validasi bahwa kehadiranmu pantas dan memang ada tempat untukmu di dunia bau kencing ini?”
Jangan konyol, aku tahu kau bodoh bukan karena pilihan mu melainkan karena kau menghadapi semuanya sendirian. Aku maklumi pertanyaan yang sama yang terus kau utarakan pada entitas manapun yang bisa menjawab. Kau mencari jawaban terlalu jauh, coba kotak jiwamu dan lihat, betapa indahnya dirimu yang kau sembunyikan selama ini karena kau percaya bahwa mengikuti dunia akan memberimu hidup ketimbang percaya pada dirimu sendiri
Komentar
Posting Komentar