Guri: "If 'Asa' in you dissapears, which part will you hold on to?"

Waktu udara sempat turun-turunnya, aku teringat kisah muda yang sedari dulu ingin ku tulis saat meratap hujan terpecah belah dari jendela. Lilin yang ku pakai untuk menulis sudah setengah namun cerita mendadak sedang di titik seru-serunya. 

Itu berkisah tentang satu jiwa yang hari itu memutuskan duduk di tepi jembatan. Apakah ia terlihat begitu melankolis sore itu? Tidak juga, dia hanya sedang makan es krim sambil mengayun-ayunkan kaki, sesekali menoleh pada riak air di bawahnya, pun ia sadar beberapa orang yang melirik ke arahnya di jam arus bolak-balik orang kantoran ini dengan tatapan agak menuding sebab tak sepantasnya saja ada orang duduk di posisi yang agak ambigu ini.

Dasarnya, memang. Hari itu ada dorongan tidak manusiawi dalam dirinya. Itu berkata agar ia coba menyatu dengan perairan, ia akan hidup damai dan bahagia. Sendal ia copot, sisa uang beli es ia tinggalkan saat ia memanjat pagar pembatas itu. 

Jalan sudah cukup sepi, matahari hampir redup sepenuhnya seolah menjadi manifestasi sisa-sisa yang ia pegang dalam dirinya. Tangannya terentang lebar, seperti merpati yang akhirnya tahu cara mengepakkan sayap, kepalanya tertoleh ke belakang saat gelak ringan keluar dari bibirnya, matanya membuka tipis—masih setengah memicing—tapi cukup untuknya melihat langit sekali lagi.  

Menurutnya rasa itu luar biasa, seolah apa yang menekan ikut ditarik keluar saat ia berganti menundukkan kepala, menatap jarak antara dirinya dan air yang tampak begitu mempesona, rembulan yang mulai muncul memantulkan kemilau bak mutiara pecah yang bertebaran. Apakah rasanya bebas itu akan sebegini dinginnya? Dingin namun tidak sepi, dan baginya bila memang begini rasanya bebas itu, ia akan dengan sepenuh hati mendekapnya.

𝘑𝘈𝘛𝘜𝘏𝘓𝘈𝘏

Merpati itu terjun bebas, matanya menutup seolah di khianati rasa takut yang tiba-tiba mencekik. Bagaimana tubuhnya membelah air dan jauh terdorong ke dalam air membuatnya tersentak. Gelembung-gelembung naik ke permukaan saat ia membuka mulut, air mengisi paru-paru dengan cepat lalu secara alamiah tangannya terentang ke permukaan, menarik entah apa lalu melemah—sadar—dia mau ini, tangan itu tidak seharusnya menjulur, tidak akan ada siapapun. Lalu masih dengan sisa kejut jantung yang berusaha meyakinkan diri bahwa mereka akan baik-baik saja dan di antara rasa panas dan damai itu, pandangannya memudar.

Tidur panjang yang ia idam-idamkan, dalam dingin yang tidak sepi ini, ia mendekap seluruh yang ia punya sampai ia merasakan kehangatan sejati, lengan yang merengkuhnya dan menariknya keluar dari air. Hangatnya, hangat sekali pelukan itu, hangat yang tidak sepi ternyata—oh Tuhan—engkau tidak mengatakan akan ada yang seperti ini. Engkau tidak mengatakan akan ada seseorang yang menjemput, membawa pulang ke tempat yang lebih hangat.

Aku berhenti menulis saat lilin akhirnya mati, tersenyum lalu mengecup lembar terakhir kertas itu. Aku masih ingin melanjutkannya namun untuk mengambil lilin tambahan di saat kekasihku sibuk mengomeli soal kembali ke tempat tidur. Aku hanya menghela nafas pertanda menyerah sebab aku pun tahu bagaimana kisah itu berakhir tanpa harus dilanjutkan sebab merpati itu kini tak lagi terobsesi untuk terbang jauh saat ia bisa terbang bersama orang-orang tersayangnya.

Komentar

Postingan Populer