Guri: "If 'Asa' in you dissapears, which part will you hold on to?"
Waktu udara sempat turun-turunnya, aku teringat kisah muda yang sedari dulu ingin ku tulis saat meratap hujan terpecah belah dari jendela. Lilin yang ku pakai untuk menulis sudah setengah namun cerita mendadak sedang di titik seru-serunya. Itu berkisah tentang satu jiwa yang hari itu memutuskan duduk di tepi jembatan. Apakah ia terlihat begitu melankolis sore itu? Tidak juga, dia hanya sedang makan es krim sambil mengayun-ayunkan kaki, sesekali menoleh pada riak air di bawahnya, pun ia sadar beberapa orang yang melirik ke arahnya di jam arus bolak-balik orang kantoran ini dengan tatapan agak menuding sebab tak sepantasnya saja ada orang duduk di posisi yang agak ambigu ini. Dasarnya, memang. Hari itu ada dorongan tidak manusiawi dalam dirinya. Itu berkata agar ia coba menyatu dengan perairan, ia akan hidup damai dan bahagia. Sendal ia copot, sisa uang beli es ia tinggalkan saat ia memanjat pagar pembatas itu. Jalan sudah cukup sepi, matahari hampir redup sepenuhnya seolah me...